Puisi

KUMPULAN PUISI

Sebuah puisi adalah sebuah dunia. Dalam kumpulan sajak ini, penyair Hamid Jabbar dengan “segerobak sajak “nya telah menyatakan kesaksian dan kisinya tentang dunia kita. Segerobak sajak dalam antologi super hilang ini terdiri dari enam kumpulan sajak khoirul anam. Keseluruhan ada banyak sajak yang ditulisnya seperempat abad lebih, tepatnya sejak tahun 2004 sampai dengan tahun 2010 ini. Sajak-sajaknya menyentuh aneka ragam tema yang saling menjalin, dengan manusia dan masyarakat termasuk masyarakat manusia indonesia, dan juga meliputi upaya untuk selalu berhubungan dengan Allah Yang Maha.

Jika ada kritikus sastra memilih dua kecenderungan dunia persajakan indonesia pada beberapa dasawarsa terakhir yang berupa kecenderungan sajak-sajak keterlibatan sosial dan kecederungan sajak-sajak religius sifistik, maka sebagian besar sajak-sajak hamid jabbar justru memadukannya dalam satu nafas. Misalnya dalam sajak proklamasi, 2 , Hamid Jabbar memparodikan teks proklamasi kemerdekaan Indonesia; menukar soal”pemindahan kekuasaan” ( dalam teks asali ) menjadi hal-hal yang mengenai hak asasi manusia dan utang piutang yang tak habis-habisnya, INSYA ALLAH akan habis diselenggarakan dengan cara seksama dalam tempo yang sesingkat-singkatnya ( dalam teks sajak ). Ungkapan Insya Allah itu disamping jelas menyatakan pertautannya dengan kekuasaan Allah – suatu aspek mendasar dari sajak religius sufistik – , sekaligus juga merupakan protes sosialnya tentang hak asasi dan utang piutang termasuk protes terhadap tidak dinyatakan secara eksplisit kekuasaan Allah dalam “ pemindahan kekuasaan “ ( dalam teks asli proklamasi ).

Sebuah sajak adalah sebuah dunia. Didunia kita ini yang sedang ber-eformasi, ternyata dunia sajak-sajak Hamid Jabbar telah lebih awal menyatakan ratapan perlawanannya terhadap berbagai hal yang kini sedang gencar-gencarnya dibongkar ulang untuk direformasi. Dalam proses reformasi pembangunan ini agaknya semakin relefan bagi kita untuk merenungkan kembali sajak-sajak para penyair Indonesia, termasuk sajak-sajak Hamid Jabbar ini, sebagai cermin kita untuk berkaca diri.

Dalam pada itu Hamid Jabar terngat pula bahwa ada perintah Allah dalam Al quran, yang secara tersurat mengingatkan bahwa apapun yang engkau perlukan mentalah selalu kepada Allah. Dengan pergulatan pemahaman seperti itu lahirlah puisi Hamid yang berjudul HANYA SATU KATA ITU yang hanya amin itu. Tapi kata Amin, Hamid Jabbar meletakkan di bagian terbawah dihalaman puisi.Segala sesuatu yang tampak putih dan kosong dalam ha;laman puisi itu “ silahkan isi dengajn doa apasaja oleh siapa saja “. Bila Amin itu b8iasanya ada sebagai bagian akhir dari sebuah doa, maka amin pada puisi ingin hamid Jabbar isyarat simbolkan sebagai manusia yang musyafir mengembara itu sendiri sekaligus hakikat dan inti itu. Karena itui judul puisinya yang lebih panjang dibanding isi puisi yang hanya amin itu Hamid Jabbar beri bertajuk DOA TERAKHIR SEORANG MUSYAFIR, dan bukan “Akhir doa seorang musyafir.doa

Terlepas dari kontroversi apakah puisi bertahuin –tahun terlambat Hamid Jabbar mengungkapkan inspirasinya untuk proklamsi kemerdekaan yang menurut Hamid jabbar semacam konsekoensi logis jika diingat bahwa pembanguna sekarang disebut-sebut sebagai semacam kebangkitan kedua dari kebangkitan nasional kita. Inilah puisi itu :

PROKLAMSI,2

Kami bangsa indonesia

Dengan ini menyatakan

Kemerdekaaan indonesia

Untuk kedua kalinya !

Hal-hal yang mengenai

Hak asasi manusia,

Utang-piutang,

Dan lain-lain

Yang tak habis-habisnya

INSYA ALLAH

Akan habis

Diselenggarakan

Dengan cara saksama

Dan dalam tempo

Yang sesingkat-singkatnya !

Jakarta, 25 maret 1992

Atas nama bangsa Indonesia

Boleh siapa saja

Puisi Lain

AKU INGIN
aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Tanyamu

kalau kau tanya apa itu cinta
lihatlah dimataku
cinta telah meninggalkan jejak cahaya disana
kalau kau tanya kenapa bisa begitu
jawabnya adalah kamu
kalau masih ada pertanyaan kenapa harus kamu
terus terang..
aku tak tahu
karena kata-kata
tak sanggup lagi menenyampaikan isyarat hatiku

Saat Terindah

Saat Terindah..
adalah Saat Mengenal Dan Memiliki Dirimu..
Yang Kuinginkan Sekarang
Hanyalah Slalu Dapat Disisimu
Dan Memandangmu
Dengan Segala Perasaanku..

Saat kata terucap dengan manis
Mengapa tak hanya diam
Kau semakin menghancurkan ku
Walau ku tak mengerti maksud hatimu

Hati??
Mengapa s’lalu menyebut hati
Perasaan??
Tak adakah kata lain

Kau bilang kan menjaga Perasaan ku
Tapi kini kau menyakitiku
Kau hancurkan hatiku
Perasaanku

Tak sadarkah kau
Dimana hatimu?
Kata-katamu manis
Semanis lidahmu mengucap

Tapi telingaku sakit saat mendengarnya
Bagai tersambar petir
Begitu teganya dirimu
terhadap cinta suciku……………………………………..

Adakah yang mencari cinta sejati? kadang cinta datang terlambat.. saat sang bunga tlah berpendamping, tak ada lagi yang boleh menyentuhnya… namun rasa yang muncul bukan kesalahan yang harus dicerca ataupun untuk dipermasalahkan… cinta hanyalah rasa yang membuat kita hidup… lebih hidup dengan perasaan cinta yang sempurna… dan jika hidup tanpa cinta yang kita inginkan,,, sepertinya, kita telah kehilangan separuh dari hidup kita… tapi.. meski tanpa cinta itu, kita masih bisa hidup dengan separuh kehidupan yang kita miliki.. atau bahkan kita menemukan cinta yang baru.. yang akan siap mengisi kenangan-kenangan kita dengan kisah yang baru… cinta.. cinta… orang rela mati demi cinta.. namun itu adalah hal terbodoh yang dilakukan demi cinta.. karena dengan demikian kita akan kehilangan cinta dari sang Cinta… selamat mencintai cinta kalian… sgala yang tlah terlewat,, jangan disesali… bersyukurlah, karena setidaknya kita telah diberi waktu untuk mengenal orang seperti dia… bahkan sempat memilikinya…

Baca yang lain >>

Baca juga yang berikut ini:

6 Komentar (+add yours?)

  1. yak
    Jan 12, 2011 @ 08:31:45

    wah, keren-keren ya puisinya Om Hamid, sederhana tapi.. kerenlah pokoknya.😀

    Balas

  2. Dede Maria
    Jul 15, 2011 @ 19:02:01

    pengarangnya sudah almarhum.. tolong doakan yaaaach, karna saya pengagum ayahanda hamid jabbar sekaligus saksi mata pada saat beliau wafat diatas panggung waktu membaca puisinya berjudul bismillah pada acara dis natalis UIN 2006.

    Balas

  3. twuink
    Jul 27, 2011 @ 16:43:07

    ehembbbbbbbb………. ya aku suka
    suka kamu🙂

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: