Karya ilmiah pendek

Mikologi Fungi Pada Manusia

Dalam pembelajaran biologi berkaitan dengan cara mencari tahu dan memahami tentang alam sekitar secara sistematis, sehingga ilmu biologi bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta konsep, penemuan pendidikan biologi diharapkan dapat menjadi wahana bagi siswa untuk mempelajari dirinya sendiri dan alam sekitar beserta isinya yang terdiri dari dua macam yaitu makhluk hidup (biotik) dan makhluk tidak hidup (abiotik) (Bambang, 1998) .

Sedangkan dilihat dari realita telah kita mengenal ada berbagai jenis spesies ragi dan jamur tetapi ada hanya ada sekitar 1000 yang menyebabkan penyakit pada manusia atau hewan (banyak yang lain menyebabkan penyakit pada tumbuhan). Hanya dermatofita dan spesies candida yang sering ditularkan dari satu orang ke orang lain.

Untuk lebih mudahnya, infeksi mikotik manusia dikelompokkan dalam infeksi jamur superfisial, kutan, subkutan, dan profundan (atau sistematik).

Infeksi-infeksi jamur superfisial, kutan, atau subkutan pada kulit, rambut, dan kuku dapat menjadi kronis dan resisten terhadap pengobatan tetapi jarang mempengaruhi kesehatan umum si penderita. Mikosis profunda disebabkan oleh jamur patogenik atau jamur opurunistik yang menginfeksi penderita dengan gangguan imunologi.

Mikologi Fungi pada Tumbuhan

A. Latar Belakang

Manusia memerlukan berbagai ilmu agar dapat berperan lebih jauh. Persoalan yang umum dijumpai dalam pendidikan mencakup beberapa faktor, yaitu faktor tujuan, anak didik, pendidik, alat-alat atau fasilitas dan faktor lingkungan. Beberapa ilmu pembantu dapat memberikan bahan-bahan untuk memahami masing-masing faktor dengan lebih detail yang salah satunya termasuk ilmu biologi yang identik dengan lingkungan siswa (Suwarno, 2006) .

Pembelajaran IPA masih didominasi oleh penggunaan metode ceramah dan kegiatannya lebih berpusat pada guru. Aktivitas siswa dapat dikatakan hanya mendengarkan penjelasan guru dan mencatat hal¬hal yang dianggap penting. Guru menjelaskan IPA lainnya sebatas produk dan sedikit proses.

Infeksi-infeksi jamur superfisial, kutan, atau subkutan pada kulit, rambut, dan kuku dapat menjadi kronis dan resisten terhadap pengobatan tetapi jarang mempengaruhi kesehatan umum si penderita. Mikosis profunda disebabkan oleh jamur patogenik atau jamur opurunistik yang menginfeksi penderita dengan gangguan imunologi.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang di atas maka penulis dapat
merumuskan suatu permasalahan dalam makalah ini antara lain sebagai
berikut :

Apa pengertian dari fungi pada tumbuhan ?
Dimanakah letak fungi dalam taksonomi tumbuhan ?
bagaimana letak habitat fungi jika ditinjau daru jenis tumbuhan ?
Bagaimana klasifikasi fungi ?

C. Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah di atas maka penulis dapat memahami tujuan dari penyusunan makalah ini adalah :
Untuk mengetahui pengertian dari fungi pada tumbuhan
Untuk mengetahui posisi fungi dalam taksonomi
Untuk mengetahui habitat fungi
Untuk mengetahui klasifikasi fungi

Pembahasan Materi – FUNGI PADA TUMBUHAN

Pengertian Fungi

Fungi adalah nama regnum dari sekelompok besar makhluk hidup eukariotik heterotrof yang mencerna makanannya di luar tubuh lalu menyerap molekul nutrisi ke dalam sel-selnya.

Fungi memiliki bermacam-macam bentukorganisme yang terdapat dimana-mana di bumi, baik di daerah tropik, subtropik, di kutub utara, maupun antarika. Fungi juga ditemukan di darat, di perairaian tawar, di laut, di mangrove, di bawah permukaan tanah, di kedalaman laut, dipengunungan, maupun di udara.

Banyak faktor lingkungan yang mempengaruhi kehidupan fungi, antara lain kelembapan, suhu, keasaman substrat, pengudaraan, dan kehadiran nutrien-nutrien yang diperlukan. Pendapat lain menyatakan bahwa fungi adalah tumbuhan yang tidak mempunyai klorofil sehingga bersifat heterotrof, tipe sel: sel eukarotik. Jamur ada yang uniseluler dan multiseluler.

Tubuhnya terdiri dari benang-benang yang disebut hifa, hifa dapat membentuk anyaman bercabang-cabang yang disebut miselium. Reproduksi jamur, ada yang dengan cara vegetatif ada pula dengan cara generatif.

Ditinjau dari sisi taksonomi dan ekologi, fungi ini merupakan organisme yang sangat heterogen. Petrini et al. (1992) menggolongkan fungi endofit dalam kelompok Ascomycotina dan Deuteromycotina. Keragaman pada jasad ini cukup besar seperti pada Loculoascomycetes, Discomycetes, dan Pyrenomycetes.

Strobell et al. (1996), mengemukakan bahwa fungi endofit meliputi genus Pestalotia, Pestalotiopsis, Monochaetia, dan lain-lain. Sedangkan Clay (1988) melaporkan, bahwa fungi endofit dimasukkan dalam famili Balansiae yang terdiri dari 5 genus yaitu Atkinsonella, Balansiae, Balansiopsis, Epichloe dan Myriogenospora.

Genus Balansiae umumnya dapat menginfeksi tumbuhan tahunan dan hidup secara simbiosis mutualistik dengan tumbuhan inangnya. Dalam simbiosis ini, fungi dapat membantu proses penyerapan unsur hara yang dibutuhkan oleh tumbuhan untuk proses fotosintesis serta melindungi tumbuhan inang dari serangan penyakit, dan hasil dari fotosintesis dapat digunakan oleh fungi untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. (Bacon, 1991 ; Petrini et al., 1992 ; Rao, 1994).

Di alam ini fungi dapat bersifat sangat merugikan manusia dengan menimbulkan infeksi (penyakit) dan toksin yang dihasilkan ataupun bersifat menguntungkan dengan menghasilkan produk – produk yang dapat digunakan oleh manusia sebagai contoh antibiotika, vitamin, asam organik dan enzim.

Infeksi yang ditimbulkan oleh fungi dapat dibedakan menjadi 2, yaitu : infeksi yang ditimbulkan karena fungi sebagai individu bersarang atau menyerang tubuh kita (mengakibatkan infeksi) atau produk yang dihasilkan oleh fungi yang masuk ke dalam tubuh kita (tanpa sengaja) yang bersifat toktik dan mematikan, sebagai contoh : produk aflatoxin. Beberapa antibiotika yang dihasilkan oleh fungi sebagai contoh penisilin dan sefalosporin sangat bermanfaat bagi perkembangan dunia klinis.

Posisi Fungi dalam Taksonomi Salah satu organisme penghasil antibiotika yang sedang banyak dibicarakan sekarang ini adalah fungi endofit. Fungi endofit biasanya terdapat dalam suatu sistem jaringan seperti daun, ranting, atau akar tumbuhan.

Fungi ini dapat menginfeksi tumbuhan sehat pada jaringan tertentu dan mampu menghasilkan mikotoksin, enzim serta antibiotika (Carrol,1988 ; Clay, 1988). Asosiasi beberapa fungi endofit dengan tumbuhan inang mampu melindungi tumbuhan inangnya dari beberapa patogen virulen, baik bakteri maupun jamur (Bills dan Polyshook, 1992).

Fungi dulu dikelompokkan sebagai tumbuhan. Dalam perkembangannya, fungi dipisahkan dari tumbuhan karena banyak hal yang berbeda. Fungi bukan autotrof seperti tumbuhan melainkan heterotrof sehingga lebih dekat ke hewan.

Usaha menyatukan fungi dengan hewan pada golongan yang sama juga gagal karena fungi mencerna makanannya di luar tubuh (eksternal), tidak seperti hewan yang mencerna secara internal. Selain itu, sel-sel fungi berdinding sel yang tersusun dari kitin, tidak seperti sel hewan.

Habitat

Dalam makalah ini habitat itu adalah tempat tumbuhnya fungi. Fungi hidup pada lingkungan yang beragam namun sebagian besar jamur hidup di tempat yang lembab. Habitat fungi berada di darat (terestrial) dan di tempat lembab. Meskipun demikian banyak pula fungi yang hidup pada organisme atau sisa-sisa organisme di laut atau di air tawar.

Jamur juga dapat hidup di lingkungan yang asam. Sedangkan reproduksinya fungi melakukan reproduksi secara aseksual dan seksual. Reproduksi secara aseksual terjadi dengan pembentukan kuncup atau tunas pada jamur uniselule serta pemutusan benang hifa (fragmentasi miselium) dan pembentukan spora aseksual (spora vegetatif) pada fungi multiseluler.

Reproduksi jamur secara seksual dilakukan oleh spora seksual. Spora seksual dihasilkan secara singami. Singgami terdiri dari dua tahap, yaitu tahap plasmogami dan tahap kariogami. Jamur dibagi Menjadi 6 divisi :

1) Myxomycotina (Jamur lendir)

• Myxomycotina merupakan jamur yang paling sederhana.
• Mempunyai 2 fase hidup, yaitu: Fase vegetatif (fase lendir) yang dapat bergerak seperti
• Amuba, disebut plasmodium
Fase tubuh buah Reproduksi : secara vegetatif dengan spora, yaitu spora kembara yang disebut myxoflagelata.

2) Oomycotina
• Tubuhnya terdiri atas benang/hifa tidak bersekat, bercabang¬cabang dan mengandung banyak inti.
• Reproduksi

• o Vegetatif : yang hidup di air dengan zoospora yang hidup di darat dengan sporangium dan konidia
• o Generatif : bersatunya gamet jantan dan betina membentuk oospora yang selanjutnya tumbuh menjadi individu baru.

Tinjauan Religius

Dalam al-Qur’an semua yang ada di muka bumi dijelaskan secara jelas diberi tahu secara langsung bahwa semua tumbuhan, hewan, manusia, secara umum makluk hidup dapat memberikan manfaat tersendiri.

Dari uraian tersesebut bila dipandang dari segi agama. Al¬Qur’an menjelaskan kepada umat manusia untuk menggunakan apa yang ada dan dianugrahkan di alam seperti menggunakan dan memelihara jamur pada tempanya. Beraneka ragama tumbuhan dan makluk hidup yang dapat diambil manfaatnya serta dapat memberikan keuntungan besar bagi manusia. Allah menjelaskan dalam hadistnya seperti :

Artinya : Hai sekalian manusia, makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhamnu yang telah dimudahkan (bagimu). Pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi yang mau berfikir”

Studi kasus

Studi kasus dalam makalah ini pada suatu produk yang dihasilkan oleh fungi seperti cacar teh. Cacar teh berasal dari Assam dan di sana sudah dikenal sebelum tahun 1860. dalam jangka waktu yang lama penyakit dapat melalui pengunungan.

Cacar dan masuk ke Darjeeling juga penyakit lama berhenti disini, pada tahun 1946 penyakit dapat mencapai perkebunan teh di India selatan dan Sri Lanka . Studi kasus yang disebabkan oleh semua ini adalah timbulnya penyakit di perkebunan teh di Thailand utara, pada tahun 1962. penyakit belum terdapat di perkebunan-perkebunan teh di papu Nugini dan di Queensland, Australia.

Gejala yang ditimbulkan antara lain : mula-mula cacar tampak seperti becak kecil hijau pucat dan tembus cahaya pada daun muda.
a) Tingkat 1 : pada daun muda terjadi bintik-bintik kecil tembus cahaya
b) Tingkat 2 : Terjadi becak yang mempunyai pusat tidak berwarna, dikelilingi oleh daerah hijau kekuning-kuningan yang dibatasi oleh cincin cahaya
c) Tingkat 3 : cacar melebar, dengan garis tengah 3-6 mm dan makin
menonjol ke sisi bawah daun.
d) Tingkat 4 : cacar makin besar dan tonjolan makin jelas
e) Tingkat 5 : cacar mencapai ukuran terbesar, kurang lebih 1 cm.
f) Tingkat 6 : pusat cacar yang semula berwarna putih berubah menjadi coklat
g) Tinkgat 7 : cacar mati, warnanya menjadi coklat tua.

Selain daun, jamur dapat juga menyerang ranting-ranting yang masih hijau. Pada umumnya ini hanya terjadi dikebun-kebun yang mengalami serangan berat, yang perdu-perdunya telah menjadi lemah

karenannya. Infeksi ranting (batang muda) dapat menyebabkan pembengkokkan dan patahnya ranting-ranting, dan matinya tunas-tunas.

Sedangkan dilihat dari segi penyakit pada tahun 1989 oleh Massee jamur yang menyebabkan penyakit ini diderterminasinya sebagai embriosidium vexans sedangkan daur penyakitnya sampai sekarang E. Vexus hanya diketahui membiak dengan basidiospora. Selain itu, jamur tidak dapat hidup sebagai saprofit pada jaringan mati.

Faktor-faktor yang mempengaruhi penyakit cacar teh terutama merugikan kebun-kebun di atas 900 m dari permukaan laut. Juga pada umumnya penyakit berjangkit pada musim hujan.

1 Faktor cahaya matahari dapat mempengaruhi penyakit secara tidak langsung karena cahaya dapat mengurangi kelembaban udara dalam kebun
2 Dalam ruang yang gelap sama sekali hanya sedikit spora yang dapat berkecambah
3 Faktor angin juga berpengaruh terhadap penyakit, karena angin dapat mempengaruhi kelembaban udara Sedangkan studi kasus lain yang penulis temukan ada pada fungi endoft.

Banyak kelompok fungi endofit yang mampu memproduksi senyawa antibiotika yang aktif melawan bakteri maupun fungi patogenik terhadap manusia, hewan dan tumbuhan, terutama dari genus Coniothirum dan Microsphaeropsis (Petrini et al., 1992).

Penelitian Dreyfuss et al. (1986), menunjukkan aktivitas yang tinggi dari penisilin N, sporiofungin A, B, serta C yang dihasilkan oleh isolat-isolat endofit Pleurophomopsis sp. dan Cryptosporiopsis sp. yang diisolasi dari tumbuhan Cardamin heptaphylla Schulz. Lebih lanjut, suatu penelitian yang dilakukan oleh Tscherter dan Dreyfuss

(1982) dalam Petrini et al. (1992) menghasilkan suatu kesimpulan bahwa galur-galur endofit Cryptosporiopsis pada umumnya merupakan penghasil senyawa antibiotika berspektrum lebar. Isolat fungi endofit Xylaria spp. juga memiliki potensi besar dalam penelitian-penelitian industri farmasi maupun pertanian.

Suatu strain Xylaria yang diisolasi dari tumbuhan epifit di Amerika Selatan dan Meksiko dilaporkan dapat menghasilkan suatu senyawa antibiotika baru dari kelompok sitokalasin (Dreyfuss et al., 1986).

Penelitian Brunner dan Petrini ( 1992) yang melakukan seleksi pada lebih dari 80 spora fungi endofit, hasilnya menunjukkan bahwa 75 % fungi endofit mampu menghasilkan antibiotika. Fungi endofit Xylotropik, suatu kelompok fungi yang berasosiasi dengan tumbuhan berkayu, juga merupakan penghasil metabolit sekunder.

Pada suatu studi perbandingan yang dilakukan terhadap berbagai fungi, lebih dari 49 % isolat Xylotropik yang diuji menunjukkan aktivitas antibiotika, sedangkan fungi pembandingnya hanya 28 % (Petrini et al., 1992).

Fungi endofit juga mampu menghasilkan siklosporin A, yang berpotensi sebagai antifungal dan bahan imunosupresif (Borel et al., 1976 ; Petrini et al., 1992). Siklosporin dihasilkan oleh strain Acremonium luzulae (Fuckel) W. Gams, yang diisolasi dari buah strawberry (Moussaif et al., 1977).

Senyawa antibiotika lainnya seperti sefalosporin mulanya dihasilkan oleh satu strain Cephalosporium dan Emericellopsis (Acremonium). Selanjutnya juga ditemukan pada fungi Anixiopsis, Arachnomyces,Diheterospora, Paecilomyces, Scopulariopsis dan Spiroidium (Morin dan Gorman, 1982).

Fungi endofit Acremonium coenophialum yaitu yang berasosiasi dengan rumput-rumputan dapat menghambat pertumbuhan patogen rumput Nigrospora sphaerica, Periconia sorghina dan Rhizoctonia .

Cerealis (White and Cole, 1985). Fungi endofit lainnya seperti Taxomyces andreanae dapat menghasilkan senyawa taxol yang berguna sebagai obat anti kanker (Strobel et al., 1996). Menurut Bacon (1988), fungi endofit yang mempunyai nilai komersial dalam bidang farmasi, antara lain Balansia spp. dan Acremonium coenophialum.

KESIMPULAN

Berdasarkan uraian materi di atas dapat penulis simpulkan bahwa :

1 Fungi adalah nama regnum dari sekelompok besar makhluk hidup eukariotik heterotrof yang mencerna makanannya di luar tubuh lalu menyerap molekul nutrisi ke dalam sel-selnya. Pendapat lain menyatakan bahwa fungi adalah tumbuhan yang tidak mempunyai klorofil sehingga bersifat heterotrof, tipe sel: sel eukarotik. Jamur ada yang uniseluler dan multiseluler. Tubuhnya terdiri dari benang-benang yang disebut hifa, hifa dapat membentuk anyaman bercabang-cabang yang disebut miselium. Reproduksi jamur, ada yang dengan cara vegetatif ada pula dengan cara generatif.

2 Fungi dulu dikelompokkan sebagai tumbuhan. Dalam perkembangannya, fungi dipisahkan dari tumbuhan karena banyak hal yang berbeda. Fungi bukan autotrof seperti tumbuhan melainkan heterotrof sehingga lebih dekat ke hewan. Usaha menyatukan fungi dengan hewan pada golongan yang sama juga gagal karena fungi mencerna makanannya di luar tubuh (eksternal), tidak seperti hewan yang mencerna secara interna.

3 Fungi hidup pada lingkungan yang beragam namun sebagian besar jamur hidup di tempat yang lembab. Habitat fungi berada di darat (terestrial) dan di tempat lembab. Meskipun demikian banyak pula fungi yang hidup pada organisme atau sisa-sisa organisme di laut atau di air tawar

DAFTAR PUSTAKA

1. Moore RT. 1980. “Taxonomic proposals for the classification of marine yeasts and other yeast-like fungi including the smuts”. Botanica Marine
23: 361–73 The classification system presented here is based on the 2007 phylogenetic study by Hibbett et all www. Geogle, com
1 http://lib.atmajaya.ac.id/default.aspx?tabID=61&id=98263&src=a
2 Juwarts, Melnick dan Abdilbrg, 2002. Mikrobiologi Kedokteran, Buku Kedokteran-Jakarta
3 Gould. Dinah.2003. Mikrobiologi Terapan Untuk Perawat. Penerbit
Buku Kedokteran EGC. Jakarta.
5. Haryono, Semanggun, 1988. Penyakit tanaman perkebunan di Indonesia,
Gajah Mada University Press- Yogyakarta
6 http://aadesanjaya.blogspot.com/2010/06/mikologi-fungi-pada-tumbuhan.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: