masalah kontrasepsi

Metode Kontrasepsi Dengan Alat

Bisa dibagi menjadi:

1. Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR)
Alat kontrasepsi dalam rahim mempunyai beberapa tipe, antara lain Copper T380A, Nova T, dan beberapa AKDR yang diberi hormon (mirena, Levo Nova).

Kelebihan:

  • Angka perlindungannya cukup tinggi, yaitu dengan kegagalan 0,3-1 per 100 wanita tiap tahun.

Kekurangan:

  • Mengundang risiko infeksi radang panggul, perdarahan, dan kehamilan di luar kandungan.
  • Komplikasi perforasi (lubang) uterus.
  • Tidak memberi perlindungan terhadap penyakit kelamin dan hepatitis B maupun HIV/AIDS.

2. Kontrasepsi Dengan Metode Perintang
Yang paling umum digunakan adalah kondom, diafragma, dan spermisida.

a. Kondom
Kantong kecil yang terbuat dari karet ini bekerja dengan membungkus penis, sehingga sperma yang keluar tetap berada dalam kantong tersebut.

Kelebihan:

  • Aman dipakai
  • Mudah didapat
  • Cukup efektif bila digunakan dengan benar.
  • Dapat mencegah penyebaran penyakit menular seksual dan hepatitis B HIV/AIDS.

Kekurangan:

  • Ada risiko robek. Oleh sebab itu, gunakan satu kondom hanya untuk satu kali pakai. Kondom yang baik terasa licin dan basah. Jangan gunakan kondom yang bagian dalamnya kering, yang terasa lengket di tangan, atau yang merekat pada bungkus plastiknya.
  • Angka kegagalan tinggi, yaitu 3 – 15 per 100 wanita per tahun.

b. Diafragma
Berbentuk seperti mangkok ceper, terbuat dari karet. Cara penggunaannya dimasukkan ke dalam vagina. Alat ini berkerja dengan cara menutupi mulut rahim, sehingga sperma, meski masih masuk ke vagina, tak bisa meneruskan perjalanan ke rahim.

Kelebihan:

  • Dapat dipakai berkali-kali.
  • Melindungi dari kehamilan dan penyakit menular seksual hepatitis B HIV/AIDS.

Kekurangan:

  • Angka kegagalan tinggi, yaitu 5 – 20 per 100 wanita per tahun.
  • Sulit dipasang.

c. Spermisida
Alat KB ini memiliki bentuk beragam. Ada foam aerosol (busa), tablet, krim, jeli, dan spons. Dipakai dengan cara dioleskan ke dalam vagina sebelum berhubungan intim. Spermisida mematikan sel-sel sperma sebelum sempat memasuki rahim.

Kelebihan:

  • Melindungi pemakainya dari penyakit menular seksual gonorrhea, klamida, hepatitis B, HIV/AIDS
  • Tidak didapatkan efek samping sistemik/pada tubuh.

Kekurangan:

  • Angka kegagalan 10-25 dari 100 wanita per tahun.
  • Tidak memberi perlindungan terhadap hepatitis B, penyakit menular seksual, seperti HIV/AIDS, klamidia, gonorrhea.
  • Bisa menimbulkan gatal-gatal atau lecet pada vagina.
  • Tidak terlalu ampuh bila hanya digunakan tanpa bantuan alat lain seperti kondom atau diafragma.

3. Metode KB Hormonal
Kebanyakan kontrasepsi hormonal mengandung estrogen dan progesteron atau hanya progesteron saja.

a. Pil KB Terpadu
Umumnya mengandung hormon gestagen dan estrogen sintetik. Pil yang dianjurkan adalah pil dosis rendah yang mengandung estrogen kurang dari atau sebesar 35 mikrogram dan 1 miligram progesteron.

Kelebihan:

  • Mudah didapat

Kekurangan:

  • Harus diminum setiap hari.
  • Tidak semua wanita disarankan menggunakan pil, yaitu:
  • ibu menyusui,
  • perokok,
  • berusia 40 tahun ke atas,
  • memiliki problema kesehatan apa pun seperti kejang, TBC, kanker, hipertensi, diabetes, hepatitis, jantung pernah stroke, dan lainnya.
  • Menimbulkan efek samping:
  • terjadi pendarahan tidak teratur di luar masa haid.
  • mual-mual
  • sakit kepala

b. Pil KB Mini
Beda dengan pil KB terpadu, pil ini hanya mengandung gestagen saja.

Kelebihan:

  • Dapat digunakan untuk ibu menyusui
  • Mudah didapat

Kekurangan:

  • Memiliki efek samping yaitu:
  • Pendarahan tidak teratur
  • Haid tidak datang
  • Terkadang muncul sakit kepala

c. Suntikan
Suntikan KB melindungi dari kehamilan sampai tiba waktunya disuntik kembali. Efektivitasnya hampir sama dengan pil kombinasi dan melebihi pil mini maupun AKDR. Kegagalan pada umumnya terjadi karena ketidakpatuhan terhadap jadwal suntik atau teknik penyuntikan yang salah. Cara kerja suntikan KB salah satunya yaitu menyebabkan pengentalan mukus serviks, sehingga menurunkan kemampuan penetrasi sperma.

Yang perlu diketahui, jika kontrasepsi suntikan dihentikan harus menunggu 1 tahun atau lebih untuk bisa hamil kembali.
Pemakai akan menerima suntikan hormon setiap 1-3 bulan sekali, yaitu:

Suntikan progestin;
Suntikan yang hanya mengandung hormon gestagen saja. Contohnya, depo provera dan depo noristerat.

Kelebihan:

  • Bisa digunakan untuk ibu menyusui atau wanita yang tidak boleh memakai tambahan estrogen.

Kekurangan:

  • Memiliki efek samping:
  • Pendarahan tidak teratur
  • Haid tidak datang
  • Berat badan bertambah

Suntikan terpadu
Suntikan yang mengandung hormon gestagen dan estrogen, misalnya, depo estrogen-progesteron atau cyklofem.

Kelebihan:

  • Tidak mempengaruhi siklus haid

Kekurangan:

  • Tidak bisa dipakai ibu menyusui
  • Sulit diperoleh
  • Relatif mahal
  • Tidak dianjurkan bagi wanita yang tidak disarankan minum pil KB terpadu dan suntikan progestin.

d. Susuk
Dipakai dengan memasukkannya ke bawah permukan kulit sebelah dalam lengan. Ada 2 jenis:

  • – Norplant merupakan salah satu metode kontrasepsi berjangka waktu 5 tahun. Efektivitas kontrasepsi yang terdiri dari 6 batang susuk ini sangat tinggi. Angka kehamilan rata-rata pertahun hanya kurang dari 1 %.
  • – Implanon: kontrasepsi yang terdiri atas satu batang susuk ini dapat dipergunakan sedikitnya selama 3 tahun.

Kelebihan:

  • * Sesudah dipasang alat ini akan mencegah kehamilan selama 5 tahun.
  • * Bisa digunakan oleh wanita yang mengalami masalah dengan hormon estrogen.
  • * Bisa digunakan oleh wanita yang menjalani pengobatan untuk kekejangan.
  • * Walau dirancang 5 tahun, bisa dicopot sewaktu-waktu.

Kekurangan:

  • * Susuk lebih gampang dipasang daripada dicopot. Jadi sebelum memakai metode ini, pastikan pekerja kesehatan di klinik atau pos pelayanan KB sudah terlatih dan terampil serta bersedia mencopot susuk seandainya tidak lagi dikehendaki.
  • * Susuk sebaiknya dihindari jika yang bersangkutan:
  • – Pengidap kanker atau benjolan keras di payudara
  • – Haidnya sudah terlambat datang
  • – Mengalami perdarahan abnormal dari vagina
  • – Penderita sakit jantung
  • – Ingin hamil dalam beberapa tahun mendatang

Metode Kontrasepsi Laktasi

Metode ini hanya bisa diterapkan pada ibu menyusui yang benar-benar menyusui secara eksklusif/terus-menerus.

Kelebihan:

  • Ekonomis.
  • Mengurangi perdarahan pasca melahirkan.
  • Memberikan nutrisi yang baik pada bayi.

Kekurangan:

  • Hanya melindungi pada 6 bulan pertama.
  • Angka kegagalan/kehamilan 6 per 100 wanita per tahun.

Metode Kontrasepsi Darurat (Pasca Senggama)

Sebenarnya kontrasepsi ini bukan merupakan alternatif untuk pencegahan kehamilan. Namun, dalam keadaan darurat metode kontrasepsi ini dapat digunakan, yaitu setelah berhubungan seks dan sebelum implantasi (menempelnya embrio pada dinding rahim).

Yang perlu dicermati, kontrasepsi darurat hanya dibolehkan bagi wanita yang tidak menggunakan jenis kontrasepsi apa pun dan yang melakukan sanggama pada pertengahan siklus haidnya.

Ada beberapa jenis kontrasepsi darurat:
Estrogen:
Sudah mulai ditinggalkan karena dosis yang digunakan cukup tinggi, sehingga menimbulkan banyak efek samping.

Estrogen-progesteron:
Diberikan dalam 24 jam atau paling lambat 48 jam pascasanggama. Dosisnya harus tinggi.

Gestagen:
Diberikan paling lambat 3 jam setelah sanggama.

Danazol:
Dosis yang diperlukan 800-1200 mg/hari. Banyak menimbulkan efek samping.

Antiprogestin:
Dikenal sebagai abortivum. Dosisnya cukup 600 mg/hari.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan:

  • Efektivitasnya lebih tinggi bila digunakan segera setelah sanggama.
  • Untuk menghindari gangguan siklus haid, gunakan hanya 1 kali pada 1 siklus haid.
  • Bila tidak terjadi haid pada siklus berikutnya, ibu harus melakukan tes kehamilan.
  • Setelah menggunakan kontrasepsi darurat sebaiknya tidak melakukan sanggama lagi sampai datang siklus haid berikut.
  • Bila embrio telah tertanam dalam rahim maka pil atau tablet tidak dapat mencegah kehamilan. Kalau digunakan malah dapat menimbulkan efek kecacatan. Oleh karena itu steroid seks tidak boleh diberikan setelah 72 jam pascasanggama. Bila waktu telah dilampaui dan implantasi tetap hendak dicegah, maka akan dipasang AKDR dari tembaga.

Kekurangan:

  • Sakit kepala, mual, dan muntah. Yang bersangkutan perlu diberi obat antimuntah. Kalau terjadi kehamilan maka perlu dipertimbangkan pengakhiran kehamilan untuk mencegah efek kecacatan/kelainan pada janin.

Metode Kontrasepsi Mantap

Dikenal juga dengan sterilisasi, yaitu operasi pada saluran indung telur (perempuan) atau saluran sperma (laki-laki) agar steril atau tak ada sel telur untuk dibuahi maupun sel sperma untuk membuahi. Sterilisasi pada wanita disebut dengan tubektomi sedangkan para pria dikenal dengan vasektomi.

Tubektomi

Kelebihan:

  • Cukup efektif dalam mencegah kehamilan 0,1/100 wanita per tahun.

Kekurangan:

  • Bersifat permanen
  • Tidak terlindung dari penyakit menular seksual

Vasektomi

Kelebihan:

  • Cukup efektif dalam mencegah kehamilan 0,3/100 wanita per tahun.

Kekurangan:

  • Bersifat permanen.
  • Tidak terlindung dari penyakit menular seksual.

Perlu Disesuaikan Dengan Usia

Pemilihan alat kontrasepsi perlu disesuaikan dengan usia. Bagi perempuan 20-35 tahun disarankan menggunakan kontrasepsi pil atau kondom. Alat Kontrasepsi Dalam Rahim seperti IUD atau Spiral adalah pilihan kedua untuk menghindari terjadinya risiko infeksi pada rahim.

Dengan alasan yang sama pula, AKDR sebaiknya tidak digunakan bagi perempuan yang belum pernah memiliki anak. IUD/Spiral bisa dipakai perempuan yang telah mempunyai anak atau telah berusia di atas 30 tahun. Sedangkan bagi perempuan di atas 40 tahun jangan menggunakan kontrasepsi pil. Pil KB biasanya menggunakan hormon estrogen dan atau gestagen sintetik. Untuk mengonsumsi pil ini dibutuhkan fungsi hati yang cukup bagus, sementara fungsi hati pada wanita di atas 40 tahun biasanya sudah berkurang. Lebih baik, gunakan AKDR atau Kontap (kontrasepsi mantap), seperti tubektomi atau vasektomi.

Kondom

March 3rd, 2010 lusa Leave a comment Go to comments

Kondom tidak hanya mencegah kehamilan, tetapi juga mencegah penyakit menular seksual termasuk HIV/AIDS. Kondom akan efektif apabila pemakaiannya baik dan benar. Selain itu, kondom juga dapat dipakai bersamaan dengan kontrasepsi lain untuk mencegah PMS.

Pengertian Kondom
Kondom merupakan selubung/sarung karet yang terbuat dari berbagai bahan diantaranya lateks (karet), plastik (vinil) atau bahan alami (produksi hewani) yang dipasang pada penis saat berhubungan. Kondom terbuat dari karet sintetis yang tipis, berbentuk silinder, dengan muaranya berpinggir tebal, yang digulung berbentuk rata. Standar kondom dilihat dari ketebalannya, yaitu 0,02 mm.

Jenis Kondom
Ada beberapa jenis kondom, diantaranya:

  1. Kondom biasa.
  2. Kondom berkontur (bergerigi).
  3. Kondom beraroma.
  4. Kondom tidak beraroma.

Kondom untuk pria sudah lazim dikenal, meskipun kondom wanita sudah ada namun belum populer.

Cara Kerja Kondom
Alat kontrasepsi kondom mempunyai cara kerja sebagai berikut:

  1. Mencegah sperma masuk ke saluran reproduksi wanita.
  2. Sebagai alat kontrasepsi.
  3. Sebagai pelindung terhadap infeksi atau tranmisi mikro organisme penyebab PMS.

Efektifitas Kondom
Pemakaian kontrasepsi kondom akan efektif apabila dipakai secara benar setiap kali berhubungan seksual. Pemakaian kondom yang tidak konsisten membuat tidak efektif. Angka kegagalan kontrasepsi kondom sangat sedikit yaitu 2-12 kehamilan per 100 perempuan per tahun.

Manfaat Kondom
Indikasi atau manfaat kontrasepsi kondom terbagi dua, yaitu manfaat secara kontrasepsi dan non kontrasepsi.

Manfaat kondom secara kontrasepsi antara lain:

  1. Efektif bila pemakaian benar.
  2. Tidak mengganggu produksi ASI.
  3. Tidak mengganggu kesehatan klien.
  4. Tidak mempunyai pengaruh sistemik.
  5. Murah dan tersedia di berbagai tempat.
  6. Tidak memerlukan resep dan pemeriksaan khusus.
  7. Metode kontrasepsi sementara

Manfaat kondom secara non kontrasepsi antara lain:

  1. Peran serta suami untuk ber-KB.
  2. Mencegah penularan PMS.
  3. Mencegah ejakulasi dini.
  4. Mengurangi insidensi kanker serviks.
  5. Adanya interaksi sesama pasangan.
  6. Mencegah imuno infertilitas.

Keterbatasan Kondom
Alat kontrasepsi metode barier kondom ini juga memiliki keterbatasan, antara lain:

  1. Efektifitas tidak terlalu tinggi.
  2. Tingkat efektifitas tergantung pada pemakaian kondom yang benar.
  3. Adanya pengurangan sensitifitas pada penis.
  4. Harus selalu tersedia setiap kali berhubungan seksual.
  5. Perasaan malu membeli di tempat umum.
  6. Masalah pembuangan kondom bekas pakai.

Penilaian Klien
Klien atau akseptor kontrasepsi kondom ini tidak memerlukan anamnesis atau pemeriksaan khusus, tetapi diberikan penjelasan atau KIE baik lisan maupun tertulis. Kondisi yang perlu dipertimbangkan bagi pengguna alat kontrasepsi ini adalah:

Kondom
Baik digunakan Tidak baik digunakan
Ingin berpartisipasi dalam program KB Mempunyai pasangan yang beresiko tinggi apabila terjadi kehamilan
Ingin segera mendapatkan kontrasepsi Alergi terhadap bahan dasar kondom
Ingin kontrasepsi sementara Menginginkan kontrasepsi jangka panjang
Ingin kontrasepsi tambahan Tidak mau terganggu dalam persiapan untuk melakukan hubungan seksual
Hanya ingin menggunakan alat kontrasepsi saat berhubungan Tidak peduli dengan berbagai persyaratan kontrasepsi
Beresiko tinggi tertular/menularkan PMS

Kunjungan Ulang
Saat klien datang pada kunjungan ulang harus ditanyakan ada masalah dalam penggunaan kondom dan kepuasan dalam menggunakannya. Apabila masalah timbul karena kekurangtahuan dalam penggunaan, maka sebaiknya informasikan kembali kepada klien dan pasangannya. Apabila masalah yang timbul dikarenakan ketidaknyamanan dalam pemakaian, maka berikan dan anjurkan untuk memilih metode kontrasepsi lainnya.

Penanganan Efek Samping
Di bawah ini merupakan penanganan efek samping dari pemakaian alat kontrasepsi kondom.

Efek Samping Atau Masalah Penanganan
Kondom rusak atau bocor sebelum pemakaian Buang dan pakai kondom yang baru atau gunakan spermisida
Kondom bocor saat berhubungan Pertimbangkan pemberian Morning After Pil
Adanya reaksi alergi Berikan kondom jenis alami atau ganti metode kontrasepsi lain
Mengurangi kenikmatan berhubungan seksual Gunakan kondom yang lebih tipis atau ganti metode kontrasepsi lain

Referensi
Bambangguru. 2008. AIDS. bambangguru.wordpress.com/2008/12/01/aids/#more-301 diunduh 28 Feb. 2010, 08:45 PM
kondomku.com/page_3 diunduh 28 Feb. 2010, 10:25 PM.
Saifuddin, BA. 2008. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka. (Bagian Kedua MK 17- MK 21).
swish.org.uk/?q=sex_info/condoms diunduh 28 Feb. 2010, 08:40 PM.
thebody.com/content/art12636.html diunduh 28 Feb. 2010, 10:21 PM

//

Tulisan Sejenis :

  1. Spermisida
  2. Cara Pakai Kondom Lelaki
  3. Cara Pakai Kondom Wanita
  4. Diafragma
  5. Coitus Interuptus
  6. Metode Amenorea Laktasi (MAL) atau Lactational Amenorrhea Method (LAM)
  7. Cara Minum Pil Progestin (Minipill or Progestin Only Contraceptive)
  8. Keluarga Berencana Alamiah atau Natural Family Planning (KBA)
  9. Cara Pakai Spermisida
  10. Kontrasepsi Pil Progestin (Minipill or Progestin Only Contraceptive)

Apa KB atau Kontrasepsi Yang Cocok Untuk Saya?

Apa KB atau kontrasepsi yang cocok untuk anda?—Ini merupakan pertanyaan yang sering timbul bagi para wanita. Sebenarnya bagaimana sih memilih kontrasepsi yang cocok?

Kontrasepsi adalah suatu cara atau alat yang digunakan untuk mencegah kehamilan. Biasanya wanita menggunakan kontrasepsi untuk menunda kehamilan pertamanya dahulu atau menjarangkan kelahiran dengan anak berikutnya.

Ada beberapa metode kontrasepsi yang tersedia, dan dalam memilih apa metode yang cocok untuk anda itu tergantung dari beberapa factor seperti berapa usia anda, riwayat kesehatan anda, berapa lama anda akan menunda kehamilan anda ini, bagaimana tanggapan suami anda, dan bagaimana pemikiran dan kepercayaan anda sendiri terhadap kontrasepsi ini.

Tapi dari semua factor diatas yang terpenting adalah apakah anda merasa aman dan nyaman dengan pilihan anda juga pasangan anda. Anda dapat berkonsultasi dengan dokter anda lebih dahulu bila anda masih tidak yakin dengan pilihan anda.

Ada beberapa metode dari kontrasepsi / KB yang tersedia dan tidak setiap wanita mempunyai kecocokan yang sama.

Jadi dalam memilih kontrasepsi apa yang akan cocok untuk anda, sebaiknya anda mengetahui keuntungan dan kelemahan dari masing-masing metode yang ada, dan berdiskusilah dengan pasangan anda karena yang terpenting adalah anda dan pasangan merasa aman dan nyaman dengan pilihan kontrasepsi anda berdua.

Bila anda masih ragu jangan pernah malu untuk bertanya dan berkonsultasi dengan dokter anda untuk memilih jenis metode kontrasepsi apa yang terbaik untuk anda.

Related Posts by Categories

Kebidanan

KONTRASEPSI BUKAN CUMA MASALAH ISTRI

September 26, 2008

Rate This
sumber : NAKITA
Agar masalahnya tak berlarut-larut, pastikan Anda tahu kemungkinan-kemungkinan seputar pemakaian alat kontrasepsi.

Siapa yang harus menggunakan alat kontrasepsi, suami atau istri? Pertanyaan ini tidak bisa selesai dengan jawaban sederhana karena masalahnya memang kompleks. Konsekuensinya terkait dengan banyak hal, dari kesehatan organ reproduksi, budaya setempat, hingga kondisi psikologis. Pada dasarnya tidak ada yang salah dengan alat bantu ini. Namun penggunaan kontrasepsi pada hakikatnya tidak hanya membatasi jumlah anak, karena juga mempertaruhkan kualitas kehidupan keluarga pemakainya. Lihat saja, pemaksaan penggunaan alat kontrasepsi, baik oleh pasangan maupun negara seperti yang terjadi beberapa waktu lalu, selain membebani secara psikologis, juga mengundang masalah lainnya.

Pemahaman sepotong-sepotong tentang kontrasepsi adakalanya memancing perdebatan. Bila kedua belah pihak merasa tidak punya “bahan” yang lengkap tentang pilihan alat kontrasepsi berikut risikonya, sebaiknya libatkan pihak ketiga yang kompeten. Dalam hal ini dokter kandungan atau bidan.

Buang jauh-jauh keinginan memaksa salah satu pihak. Sebaliknya pilih alternatif yang paling aman dari sudut medis dan paling nyaman untuk keduanya. Apalagi dengan kemajuan dunia kedokteran, penggantian jenis alat kontrasepsi sangat dimungkinkan bila dirasa ada masalah dengan pilihan sebelumnya.

RAGAM PILIHAN DAN DAMPAK PSIKOLOGISNYA

* IUD

Jenis kontrasepsi ini diklaim paling aman. Meski demikian kondisi ini tidak berlaku umum bagi tiap ibu. Ada beberapa risiko seperti perdarahan, rasa nyeri di perut dan sebagainya. Namun selama dokter/bidan memastikan tidak ada yang salah dengan pemasangan alat ini, maka efek yang muncul bisa jadi adalah efek psikologis.

Masalah psikologis: Biasanya keluhan yang muncul adalah rasa sakit, rasa tidak nyaman, suami merasa ada yang mngganjal/”menusuk” saat berhubungan intim dan sebagainya. Pada saat pemasangan pun sebagian wanita merasa “seram” karena adanya benda asing yang dimasukkan ke tubuhnya.

Cara mengatasi: Ada contoh nyata, seorang wanita merasa selalu sakit perut akibat pemasangan IUD. Setelah konsultasi dengan dokter, dia ingin alat tersebut dilepas. Oleh dokter alat tersebut sebenarnya tidak benar-benar dilepas, namun sekadar “dirapikan”. Keluhannya langsung hilang, begitu dia merasa sudah “dilepas”. Padahal tentu saja IUD-nya masih berada di tempat semula. Intinya, keluhan yang muncul adalah masalah psikologis. Sebaiknya pasangan yang memilih kontrasepsi jenis ini sudah mempersiapkan mental. Rasa sakit dan tidak nyaman selama sudah dipastikan dokter tidak ada masalah, bisa diabaikan.

* Hormonal

Kontrasepsi jenis hormonal bisa berupa pil atau suntikan.

Masalah psikologis: Efek hormonal yang bisanya muncul adalah kenaikan berat badan, flek cokelat kehitaman di wajah. Bahkan akibat perubahan hormon ada beberapa wanita yang mengalami depresi.

Cara mengatasi: Bila secara medis kontrasepsi jenis ini dirasa tidak cocok, maka dokter akan menyarankan untuk menggantinya dengan kontrasepsi jenis lain. Efek psikologis yang muncul bisa direduksi dengan banyaknya aktivitas. Sebagai contoh, wanita bekerja yang sibuk tidak akan terpengaruh dengan perubahan hormonal yang dialaminya.

* Kondom

Bila kedua jenis kontrasepsi di atas menimbulkan masalah secara medis pada wanita, maka kondom bisa menjadi solusi paling praktis dan masuk akal. Apalagi pemakaian kondom dibatasi hanya pada saat masa subur saja. Itu berarti frekuensi penggunaannya sekitar seminggu setiap bulannya.

Masalah psikologis: Rasa tidak nyaman dan mengganggu kenikmatan hubungan seksual.

Cara mengatasi: Berkurangnya kenikmatan seksual akibat pemakain kondom hampir bisa dipastikan adalah masalah psikologis. Apalagi kondom yang beredar di pasaran saat ini sudah lebih modern, baik dari bentuk, ketebalan, dan tingkat keamanannya. Bila satu merek dirasa kurang oke, coba dulu dengan berganti merek lain. Buang jauh-jauh pikiran berkurangnya kenikmatan dan ganti dengan keinginan untuk memberikan kualitas kehidupan yang terbaik bagi keluarga.

* Sistem Kalender

Pengaturan jarak kehamilan dengan sistem kalender hanya efektif bagi wanita yang mempunyai siklus menstruasi teratur. Dengan demikian kapan datang masa suburnya dapat dihitung secara tepat. Namun, kontrasepsi jenis ini paling rawan “kebobolan”. Selain ketidakpatuhan pada jadwal, hitungannya pun mungkin saja meleset. Ada baiknya kontrasepsi kalender dibarengi dengan pemakain kondom di hari-hari subur.

Masalah psikologis: Seperti sudah disinggung di atas, kendala utama kontrasepsi alami ini adalah ketidakpatuhan pada jadwal. Apalagi untuk pasangan yang masih muda, baik dari segi usia maupun usia pernikahan. Kadangkala menahan hasrat terasa lebih sulit daripada memikirkan risikonya.

Cara mengatasi: Sekali lagi komunikasi. Jadikan jadwal yang sudah diatur sebagai bentuk tanggung jawab bersama. Bila salah satu pasangan mengatakan tidak di tanggal yang sudah disepakati, jangan menjadikannya sebagai alasan untuk marah dan mengungkit hal-hal yang tidak perlu. Tanpa kesadaran dan kedewasaan kedua belah pihak, pembatasan ini bisa memicu hal-hal lain yang nantinya malah merusak hubungan pernikahan, seperti adanya affair dan sebagainya.

* Steril

Pada dasarnya pemilihan kontrasepsi permanen harus didukung dengan alasan medis maupun kesiapan mental. Tanpa alasan medis yang kuat, biasanya dokter akan menawarkan alternatif kontrasepsi jenis lain.

Masalah psikologis: Kesiapan mental menjadi faktor penentu. Semisal kemungkinan munculnya perasaan “terbuang” setelah fungsinya sebagai pria/wanita tidak lagi sempurna. Atau sebaliknya, pada beberapa pribadi tertentu rasa aman yang permanen ini justru membuatnya merasa bebas sehingga membuka peluang untuk melakukan kontak seksual dengan siapa pun selain pasangan tetapnya.

Cara mengatasi: Untuk pria/wanita yang merasa “terbuang” karena fungsi organ reproduksinya sudah tidak sempurna lagi, komunikasi efektif kedua belah pihak akan menjadi tali penyelamat. Masalah yang dihadapi adalah masalah bersama. Bantu/dorong pasangan yang sudah steril dengan pikiran dan aktivitas positif. Kesibukan dan perasaan masih dibutuhkan akan menjauhkannya dari rasa putus asa.

Untuk mereka yang merasa “aman” dengan keadaan ini pun disarankan makin memperdalam dan mengintensifkan komunikasi dengan pasangan. Jangan pernah ciptakan peluang dari kondisi ini. Tanggung jawab sebagai manusia dewasa harusnya bisa menjadi sekat tak kasat mata yang tidak boleh ditembus. Jangan tergoda untuk berselingkuh dan sejenisnya semata karena menyadari tidak adanya konsekuensi yang harus dihadapi.

SADARI RISIKONYA

Selain pemilihan jenis kontrasepsi yang bisa menimbulkan efek psikologis, risiko “kebobolan” pun harusnya sudah diperhitungkan. Seperti sudah diketahui, kecuali kontrasepsi mantap, pilihan lainnya hanya menjamin di atas 90%. Artinya, masih ada peluang sekitar 1-10% terjadinya kehamilan.

Beberapa kejadian bisa dijadikan pelajaran. Contohnya ada seorang pria di Amerika yang merasa heran istrinya bisa hamil lagi padahal selama berhubungan dia menggunakan kondom. Ketika menuntut produsen kondom merek itu, diketahui bahwa efektivitas kondom tersebut hanya 99% dan itu sudah tertulis dalam kemasannya. Kebetulan pasangan inilah yang mendapat “kehormatan” untuk menjadi konsumen yang 1% tadi.

“Kebobolan” saat menggunakan alat kontrasepsi pun bisa berdampak secara psikologis. Bagaimanapun si anak tidak direncanakan kehadirannya. Langkah pertama yang harus diambil adalah berlapang dada dengan menerima anugerah tersebut. Jangan saling menyalahkan apalagi membuang-buang waktu dengan menuntut produsen alat kontrasepsi sebab hanya akan menyeret rangkaian gerbong masalah yang panjang.
Marfuah Panji Astuti

Konsultan ahli:
Dra. Lidwina Banowati, M. Psi.,
psikolog dari Siloam Graha Medika Hospital, Kebon Jeruk, Jakarta

Bagaimana cara memilih alat kontrasepsi keluarga berencana (KB)

Ceritanya selepas magrib tadi mampir ke rumah sakit menjenguk seorang sahabat yang baru saja melahirkan anak keduanya. Selisih antara anak pertama dan anak keduanya lebih dari 2.5 tahun. Menurut saya sih normal-normal saja, saya dan kakak saya hanya selisih 1 tahun 2 bulan dan rasa-rasanya sih baik-baik saja tuh. Kalau bicara planning sih, waktu yang ideal mungkin 4 tahun lagi untuk Azkia punya adik.

Ternyata, setelah ngobrol-ngobrol, si sahabat pun punya planning yang hampir sama sebenarnya. Juga 4 tahunan untuk punya anak keduanya. Hanya saja karena ‘kekurang-efektifan’ alat kontrasepsi yang dipilih akhirnya bablas juga. Si sahabat memilih alat kontrasepsi suntik, yang katanya ada sedikit ‘masalah’ saat transisi dari periode tiga bulanan menjadi satu bulanan, maka terjadilah.

Mungkin ada yang punya tips seputar alat kontrasepsi ini? sebenarnya waktu awal-awal menikah, kami juga mengandalkan alat kontrasepsi berjenis kondom. Pertimbangannya banyak, mulai dari belum mapan, belum ada rumah. Tapi lama-lama males juga. Rasa-rasanya sih banyak juga pasangan yang prinsipnya sama seperti itu.
Bagaimana cara memilih alat kontrasepsi keluarga berencana (KB)September 12, 2008 — priandoyo

Ceritanya selepas magrib tadi mampir ke rumah sakit menjenguk seorang sahabat yang baru saja melahirkan anak keduanya. Selisih antara anak pertama dan anak keduanya lebih dari 2.5 tahun. Menurut saya sih normal-normal saja, saya dan kakak saya hanya selisih 1 tahun 2 bulan dan rasa-rasanya sih baik-baik saja tuh. Kalau bicara planning sih, waktu yang ideal mungkin 4 tahun lagi untuk Azkia punya adik.
Ternyata, setelah ngobrol-ngobrol, si sahabat pun punya planning yang hampir sama sebenarnya. Juga 4 tahunan untuk punya anak keduanya. Hanya saja karena ‘kekurang-efektifan’ alat kontrasepsi yang dipilih akhirnya bablas juga. Si sahabat memilih alat kontrasepsi suntik, yang katanya ada sedikit ‘masalah’ saat transisi dari periode tiga bulanan menjadi satu bulanan, maka terjadilah.
Mungkin ada yang punya tips seputar alat kontrasepsi ini? sebenarnya waktu awal-awal menikah, kami juga mengandalkan alat kontrasepsi berjenis kondom. Pertimbangannya banyak, mulai dari belum mapan, belum ada rumah. Tapi lama-lama males juga. Rasa-rasanya sih banyak juga pasangan yang prinsipnya sama seperti itu.

1 Komentar (+add yours?)

  1. tuyul
    Jun 29, 2010 @ 13:21:07

    y y y……….terzerah…….

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: