KTI

REHABILITASI SUMBER DAYA AIR DAN KONSERVASI HUTAN/LAHAN, PERENCANAAN DALAM UPAYA MENGATASI KEKERINGAN DI KECAMATAN TORJUN KABUPATEN SAMPANG MADURA JAWA TIMUR

OLEH

KHOIRUL ANAM ( XI IPA-1)

YASY IS FUAIDAH ( XI IPA-1)

SUSIANTI ( XI IPA-1)
SITI QURROTUL AINI ( XI IPA-1)

YULANDA MADURATNA (XI IPA-1)

SMA NEGERI 1 TORJUN

KABUPATEN SAMPANG

Juni 2010

ABSTRAK

Rehabilitasi sumber daya air dan konservasi hutan/lahan, dalam upaya mengatasi kekeringan di Desa torjun  kec. Torjun kab. Sampang Madura Jawa Timur

Oleh : 1. Khoirul Anam*)

2. yasy Is Fuaidah*)

3. St Qurrotul Aini*)

4. Yulanda maduratna*)

5. Susianti*)

Makalah ini berisikan pemaparan tentang konsep perencanaan Rehabilitasi sumber daya air dan hutan/lahan, dalam upaya mengatasi kekeringan di kec. Torjun.Dengan dilaksanakannya rehabilitasi tersebut maka akan ditindaklanjuti dengan perencanaan dan pengembangan dengan perencanaan lainnyayang akan menbangun Desa Torjun Torjun, Sampang lebih maju kedepannya. Tidak labilnya iklim akan berdampak negative lebih tinggi disamping berdampak positif, antara lain adalah kekeringan yang berakibat buruk terhadap pendapatan, kehidupan dan kesehatan masyarakat Kecamatan Torjun Sampang madura. Oleh sebab itu perlu dicarikan solusi untuk mengatasinya dengan pendekatan geografis dan konsep keruangan untuk mengatasi wilayahnya ini dari kekeringan yaitu salah satunya melalui Rehabilitasi sumber daya air dan hutan/lahan.

Kata Kunci : Rehabilitasi sumber daya air dan hutan/lahan


DAFTAR GAMBAR

Gambar                                                                           Halaman

Gambar 1.1: Daerah Kering Desa Torjun                              10

Gambar 2.1. Sumber Air                                                    17

Gambar 2.2. Bak Penampung                                             18
Gambar 2.3. Pengaliran Air ke Bak Penampung                    18
Gambar 2.4. Pipa                                                              18
Gambar 2.5. Pengaliran Air Bersih                                                19

Gambar 2.6. Pengaliran Air Bersih ke konsumen                   19

Gambar 3.1 lahan dalam pembuatan hutan                          23

LEMBAR PENGESAHAN

JUDUL MAKALAH              : Rehabilitasi sumber daya air dan hutan/lahan, dalam upaya mengatasi kekeringan di kec. Torjun kab. Sampang Madura Jawa Timur

PENULIS                          :                  1. Khoirul Anam*)

2. Yasy Is Fuaidah*)

3. St Qurrotul Aini*)

4. Yulanda maduratna*)

5. Susianti*)

Sampang, 6 Maret 2010

Penulis

Mengetahui,

Kepala SMAN 1 Torjun                                                 Guru Pembimbing

Drs. Amat, MM.Pd. Anna Dimah

NIP.                                                                                 NIP.

DAFTAR ISI

Halaman

Abtrak                             ……………………………………………………………..      i

Daftar Gambar        ……………………………………………………………..      ii

Lembar Pengesahan ……………………………………………………………..      iii

Daftar isi                   ……………………………………………………………………      iv

Kata Pengantar       ……………………………………………………………..      v

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang    …………………………………………………..                  1        B. Rumusan Masalah…………………………………………………..       4        C. Tujuan Penulisan          …………………………………………………..        ..        4        D. Manfaat Penulisan……………………………………………………    4        E. Keterbatasan Penulisan           ……………………………………………       6

II. PEMBAHASAN

A. Sekilas tentang Kekeringan ………………………………………..      7

B. Rencana Pengatasan Kekeringan Wilayah di Torjun sampang

Madura…….…………………………………………………………………….        11

C. Rehabilitasi sumber daya air dan hutan/lahan, dalam upaya

mengatasi kekeringan di Desa Torjun kec. Torjun ……………….       16

III. PENUTUP

A. Simpulan  ………………………………………………………………     24      B. Saran          ………………………………………………………………     24      Daftar Rujukan ……………………………………………………………        26

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulisan makalah dengan judul “Rehabilitasi sumber daya air dan hutan/lahan, dalam upaya mengatasi kekeringan di kec. Torjun kab. Sampang Madura Jawa Timurini dapat kami selesaikan dengan baik.

Makalah ini disusun untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru Bahasa Indonesi untuk pengembangan siswa edalam prtoses belajar mengajar.

Pada kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasi yang sebesar-besarnya kepada:

1. bapak Amat selaku Kepala Sekolah SMAN 1 Torjun Kabupaten

Sampang yang telah memberikan kesempatan kepada kami untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru Bahasa Indonesi untuk pengembangan siswa edalam prtoses belajar mengajar.

2. Ibu anna Dimah,S.Pd selaku guru Bahasa Indonesiai yang dengan

Kesabaran dan ketelatenan membimbing kami dalam penyusunan makalah

Serta bimbingan belajar.

3. Semua pihak yang telah membantu terselesainya makalah ini.

Akhirnya kami sadar bahwa penulisan makalah ini, masih jauh dari kata sempurna. Semua saran dan kritik akan penulis terima dengan besar hati untuk kesempurnaan tulisan ini.

Sampang, Juni 2009

Penulis

BAB I  PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Kekeringan adalah hubungan antara ketersediaan air yang jauh dibawah kebutuhan air baik untuk kebutuhan hidup, pertanian, kegiatan ekonomi dan lingkungan.

Bencana kekeringan ini mulai melanda sejumlah wilayah di Tanah Air. Ratusan ribu hektare tanaman pangan, terutama padi, di Pulau Jawa umumnya dan torjun,sampang,madura pada khususnya terancam gagal panen ini diakibatkan dengan curah hujan yang berkurang serta musim kemarau yang panjang. Luas lahan padi yang potensial gagal panen terus bertambah seiring dengan musim kemarau yang berubah pola. Perubahan iklim–para ahli mengaitkannya dengan gejala pemanasan global–menyebabkan musim hujan dan kemarau di Indonesia bergeser. Musim kemarau yang biasanya terjadi pada periode April sampai Oktober, tahun ini baru dimulai pada Juli. Demikian juga dengan musim hujan yang bergeser dari November sampai Maret ke Februari hingga Juni.
Menurut Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Badan Meteorologi dan Geofisika Mezak Arnold Ratag, kondisi itu disebabkan anomali iklim berupa kenaikan suhu 1-1,5 derajat Celsius di utara Afrika dari suhu rata-rata 27-28 derajat Celsius. Akibatnya, massa udara kering dari Australia bergerak ke utara Afrika sehingga memperparah kekeringan di wilayah selatan ekuator, termasuk di Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan sebagian wilayah selatan Sumatera. Tidak hanya itu dari data historis, kekeringan di Indonesia sangat berkaitan dengan fenomena ENSO (El-Nino Southern Oscilation). Pengaruh El-Nino lebih kuat pada musim kemarau dari pada musim hujan. Pengaruh El-Nino pada keragaman hujan memiliki beberapa pola :

* akhir musim kemarau mundur dari normal
* awal masuk musim hujan mundur dari normal
* curah hujan musim kemarau turun tajam dibanding normal
* deret hari kering semakin panjang, khususnya di daerah Indonesia                                      bagian Timur

Bencana kekeringan yang sedang dialami oleh Indonesia pada umumnya dan Desa Torjun Kecamatan Torjun Sampang Madura khususnya harus sungguh-sungguh di atasi karena jika penguasa dan pemimpin kabupaten Sampang ataupun Indonesia sekarang bersikap sama dengan penguasa yang lalu-lalu, yang menganggap bencana adalah kelaziman merupakan suatu malapetaka besar yang bakal dialami oleh rakyat, hal ini sudah sangat mengkhawatirkan karena kalau tidak ditangani dengan serius oleh pemerintah maka akan terjadi bencana, tidak hanya kekeringan tetapi juga akan berdampak pada kesehatan manusia, tanaman serta hewan. Kekeringan menyebabkan pepohonan akan mati dan tanah menjadi gundul yang pada musim hujan menjadi mudah tererosi dan banjir.

Dampak dari bahaya kekeringan mengakibatkan bencana berupa hilangnya bahan pangan akibat tanaman pangan dan ternak mati, petani kehilangan mata pencaharian, banyak orang kelaparan dan mati, sehingga berdampak terjadinya urbanisasi.Karena lazim lalu dianggap wajar, cara pandang seperti ini sudah tidak lagi pada tempatnya sekarang. Teknologi telah cukup membantu untuk meramalkan anomali iklim. Adapun yang dapat dilakukan pemerintah untuk mengatasi bencana kekeringan yang melanda Indonesia yaitu dengan melakukan persiapan strategi mitigasi dan upaya pengurangan bencana kekeringan.

Dari uraian di atas jelas bahwa kekeringan sangatlah mengancam hidup manusia yang berada dalam wilayah yang dilanda kekeringan, yang terdapat di Indonesia umumnya  dan torjun sampang madura khususnya dan akan menurunkan pendapatan para petani dalam hal pertanian tersebut . Untuk mengatasi kejadian ini perlu kiranya dipikirkan solusi-solusi pemecahannya. Diantaranya adalah harus dipikirkan sebuah sistem reward dan punishment bagi masyarakat yang melakukan upaya konservasi dan rehabilitasi sumber daya air dan hutan/lahan. Oleh sebab itu sebagai pelajar dan generasi muda yang akan mengatasi kekeringan yang melanda di daerah ini (madura) di masa yang akan datang, kiranya tidak berlebihan apabila ikut memikirkan solusi pemecahan masalah tersebut dalam suatu pemaparan ide pada makalah yang diberi judul “rehabilitasi sumber daya air dan  konservasi hutan/lahan, suatu Perencanaan dalam upaya mengatasi kekeringan Desa Torjun kec. Torjun  Sampang Madura Jawa Timur.

B. Rumusan Masalah

Dari latar belakang  di atas , rumusan masalah yang dapat diajukan adalah “ Bagaimanakah pelaksanaan program rehabilitasi sumber daya air dan konservasi hutan/lahan, suatu Perencanaan dalam upaya mengatasi kekeringan di Desa Torjun kec. Torjun  Sampang Madura Jawa Timur.?”

C. Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mendeskripsikan program rehabilitasi sumber daya air dan hutan/lahan, suatu Perencanaan dalam upaya mengatasi kekeringan Desa torjun kec. Torjun  Sampang Madura Jawa Timur

D. Manfaat Penulisan

Manfaat penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:

1. Bagi Masyarakat Desa Torjun

Menciptakan kesadaran bagi masyarakat Desa Torjun Kecamatan Torjun Sampang madura, bahwa kekeringan menyebabkan keterpurukan ekonomi semakin tinggi dan sangat merugikan bagi masyarakat dalam hal pertanian madura. Oleh sebab itu harus dicarikan solusi sejak dini melalui rehabilitasi sumber daya air dan hutan/lahan

2. Bagi Pemerintah

Dengan dijalankan atau digulirkannya suatu program rehabilitasi sumber daya air dan hutan/lahan dalam rencana Pemberantasan kekeringan yang terjadi di torjun, maka pemerintah daerah  sampang pada khususnya dan pemerintah propinsi Jawa Timur pada umumnya dapat mengambil kebijakan dan langkah-langkah penting dalam hal untuk mengurangi dampak dari kejala alam yang terjadi di kawasan torjun sampang yaitu kekeringan  melalui program rehabilitasi sumber daya air dan hutan/lahan.

3. Bagi Penulis

Sebagai salah seorang siswa SMA Negeri 1 Torjun yang merupakan generasi muda yang berasal dari kecamatan torjun sampang Madura sendiri. Karya tulis dalam makalah ini dapat dijadikan sebagai sumbang saran, masukan dan peran aktif penulis dalam rangka ikut membangun madura ke depan tanpa adanya kekeringan dengan adanya upaya rehabilitasi sumber daya air dan hutan/lahan. Penulis dapat mengemukakan ide-ide yang berkaitan dengan bagaimana caranya untuk menangani dampak kekeringan dalam upaya prningkatan stabilitas wilayah ditinjau dari segi pendapatan ekonomi ataupun segi geografi.

E. Keterbatasan Penulisan

Membahas tentang rehabilitasi sumber daya air dan hutan/lahan dalam upaya mengatasi kekeringan  tidak selesai begitu saja, karena sangat kompleks dan luas untuk dibicarakan. Oleh sebab itu dalam makalah ini hanya dibatasi pada Bagaimanakah pelaksanaan program rehabilitasi sumber daya air dan hutan/lahan, suatu Perencanaan dalam upaya mengatasi kekeringan kec. Torjun  Sampang Madura Jawa Timur. Sememtra itu hal-hal lain yang penting untuk dibicarakan seperti halnya Pengembangan/perbaikan jaringan pengamatan iklim pada daerah-daerah rawan kekeringan dan yang lainnya

BAB II PEMBAHASAN

ِِ

A. Kekeringan Desa Torjun

Kekeringan adalah hubungan antara ketersediaan air yang jauh dibawah kebutuhan air baik untuk kebutuhan hidup, pertanian, kegiatan ekonomi dan lingkungan.

Bencana kekeringan ini mulai melanda sejumlah wilayah di Tanah Air. Ratusan ribu hektare tanaman pangan, terutama padi, di Pulau Jawa umumnya dan Desa Torjun Kecamatan Torjun Kabupaten sampang madura pada khususnya terancam gagal panen ini diakibatkan dengan curah hujan yang berkurang serta musim kemarau yang panjang. Luas lahan padi yang potensial gagal panen terus bertambah seiring dengan musim kemarau yang berubah pola. Perubahan iklim–para ahli mengaitkannya dengan gejala pemanasan global–menyebabkan musim hujan dan kemarau di Indonesia bergeser. Musim kemarau yang biasanya terjadi pada periode April sampai Oktober, tahun ini baru dimulai pada Juli. Demikian juga dengan musim hujan yang bergeser dari November sampai Maret ke Februari hingga Juni.

Kekeringan diklasifikasikan sebagai berikut :

Kekeringan Alamiah
1.Kekeringan Meteorologis berkaitan dengan tingkat curah hujan di bawah normal dalam satu musim.
2.Kekeringan Hidrologis berkaitan dengan kekurangan pasokan air permukaan dan air tanah.
3.Kekeringan Pertanian berhubungan dengan kekurangan kandungan air di dalam tanah sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan tanaman tertentu pada periode waktu tertentu pada wilayah yang luas.
4.Kekeringan Sosial Ekonomi berkaitan dengan kondisi dimana pasokan komoditi ekonomi kurang dari kebutuhan normal akibat kekeringan meteorologi, hidrologi, dan pertanian.

Kekeringan Antropogenik
Kekeringan yang disebabkan karena ketidak-patuhan pada aturan terjadi karena :
1.Kebutuhan air lebih besar dari pasokan yang direncanakan akibat ketidak-patuhan pengguna terhadap pola tanam/pola penggunaan air.
2.Kerusakan kawasan tangkapan air, sumber-sumber air akibat perbuatan manusia.

Agustus diperkirakan akan menjadi puncak musim kemarau. Data Badan Meteorologi dan Geofisika Stasiun Klimatologi Jawa Timur menunjukkan curah hujan menurun drastis di daerah torjun-pun seperti itu saat ini sedang mengalami kekeringan yang sangat merugikan. Pada bulan Juni lalu angka perkiraannya masih berkisar 50-200 mm per bulan, tetapi Agustus tinggal 0-50 mm per bulan. Puncak musim kemarau antara lain ditandai oleh suhu udara tinggi serta kesulitan memperoleh air. Tanda-tanda itu sejak Juli sudah terasa. Di daerah torjun  mulai mengalami kekeringan akibat debit sumber-sumber air yang selama ini diandalkan warga jauh menyusut, bahkan kerontang.

Hingga saat ini Desa Torjun kecamatan torjun kekeringan. Memasuki Agustus diperkirakan terus meluas. Padahal kemungkinan kemarau akan berlangsung sampai November atau awal Desember. Berarti berbagai penderitaan yang dialami nayarakat setempat akibat kekeringan berjalan cukup panjang. Air akan menjadi barang berharga mahal. Apalagi tandon air yang dibangun sebagai penyangga untuk pemenuhan kebutuhan air kini dalam keadaan kritis.

Ada dua dampak besar akibat kekeringan yang memerlukan perhatian dan penanganan secara sungguh-sungguh, yakni kelangkaan air bersih, ancaman hama dan puso pada tanaman budi daya pertanian, serta kemunculan berbagai jenis penyakit.

Dampak yang pertama sejak dua bulan lalu sudah terungkap ke permukaan melalui media massa. Hampir setiap hari kita baca atau tonton bagaimana warga harus jalan kaki berkilo-kilometer hanya untuk memperoleh dua ember air. Ada yang membuat sumur di sungai-sungai yang telah mengering. Tak sedikit pula yang terpaksa memanfaatkan air kubangan yang sebenarnya tidak layak.

Dampak kedua juga sudah mulai muncul akhir-akhir ini. Udara panas dan agak lembap merupakan lingkungan kondusif bagi beberapa jenis hama untuk berkembang dan beraksi. Di berbagai daerah, wereng dan tikus telah menyerang areal tanaman pangan walaupun belum terlalu luas. Jika tidak ada upaya pencegahan, bukan tidak mungkin pada puncak kemarau akan terjadi ledakan hama yang merugikan tersebut. Tak kalah seriusnya adalah ancaman puso akibat kekurangan air. Sampai pertengahan Juli tanaman padi yang kekeringan dilaporkan terjadi di 10 Desa terutama Desa torjun kecamatan torjun. Luasnya mencapai14.52 hektare

Gambar 1.1: Daerah Kering Desa Torjun

Salah satu yang berbeda dari sikap pemerintah pada musim kering sekarang adalah pengakuan kekhawatiran terhadap penurunan produksi pangan.  Masyarakat sebenarnya lebih senang jika pemerintah lebih realistis tentang kekeringan ini, sehingga banyak memberikan peringatan dini terhadap dampak terburuk dari musim kering.

Menteri Pertanian Anton Apriyantono mulai khawatir, kekeringan tahun ini akan membuat padi yang gagal panen makin luas. Penurunan produksi beras tahun 2009 ini diperkirakan menurun, walaupun sedikit, atau paling tidak sama dengan 2008 (Kompas, 25 Juli 2009).

Badan Pusat Statistik (BPS) meramalkan produksi beras 2009 mencapai 62,6 juta ton gabah kering giling (GKG), atau meningkat 3,71 persen dari 60,3 juta ton produksi tahun 2008.  Artinya, musim kering panjang tahun ini telah menghilangkan potensi kenaikan produksi 2,3 juta ton padi, sesuatu yang tidak dapat dianggap enteng.

Tiga sektor ekonomi utama  kecamatan Torjun Kabupaten Sampang adalah sektor pertanian dan sektor perdagangan yang berada di Desa Torjun. Sektor pertanian merupakan roda utama yang menggerakkan perekonomian daerah ini. Subsektor pertanian yang dikembangkan meliputi pertanian tanaman pangan, tanaman perkebunan, peternakan dan perikanan.

Bidang usaha pertanian tanaman pangan potensial mengembangkan beberapa komoditi andalan di antaranya padi sawah dan ladang, jagung, ubi kayu, dan kedelai, terutama tembakau, karena mengalami kekeringan menyebabkan kerugiam yang sangat besar pada masyarat setempat.

Untuk itulah sejak sekarang butuh pengelolaan atas dampak kekeringan itu melalui prinsip antisipasi dan minimalisasi. Pada kasus kelangkaan air ada baiknya digalakkan budaya hemat air. Gunakan seperlunya dan tidak membuang-buang air untuk hal-hal tak perlu. Misalnya menyiram tanaman cukup dengan air bekas mencuci. Dalam menghindari ancaman hama dan puso, petani perlu diingatkan agar selalu memantau lahannya serta menanam tanaman yang tak membutuhkan banyak air.

B. Rencana Pemberantasan Kekeringan

Istilah rencana pemberantasan sangatlah tidak asing di telinga kita. Dalam rangka pemberantasan kekeringan yang terjadi disetiap daerah pemerintah mengupayakan agar tahun 2011 tidak ada dengan adanya bantuan pemerintah berupa bantuan air gratis yang akan diberikan kepada masyarakat.

Warta Jatim, SurabayaGubernur Soekarwo menyatakan penyebab kekeringan di wilayah Jawa Timur adalah badai El Nino dan sumber mata air Sungai Brantas tidak berfungsi. Untuk mengatasi kekeringan salah satunya menghidup kembali sumber mata air.

Hal tersebut juga disampaikan oleh Soekarwo selaku Gubernur Jawa timur. Menurut beliau, dari 111 sumber air, saat ini hanya 57 mata air yang masih berfungsi. Karena itu, banyak aliran Sungai Brantas yang cepat kering pada saat musim kemarau.

Kondisi tersebut diperparah banyak lahan kritis di areal hutan dataran tinggi. Data Badan Lingkungan Hidup (BLH) Jatim menyebutkan, ada 925 hektare lahan kritis di kawasan hutan dan 1.899 lahan kritis di luar kawasan hutan.

Gubernur meminta Jasa Tirta dan Perhutani segera melakukan reboisasi di kawasan hutan untuk mempertahankan sumber mata air yang masih berfungsi serta menciptakan sumber mata air baru.

“Yang jelas kami harus bekerja keras untuk segera menyelamatkan ekologi atau lingkungan hidup di Jatim. Kami juga menyusun langkah-langkah untuk merealisasikan program kerja tersebut,” ujar Soekarwo, Jumat (14/8)

Arbein Kepala Desa Torjun mengaku pernah mengirimkan surat permohonan bantuan suplai air kepada PDAM. “Kami sudah melayangkan surat untuk mendapat bantuan air dari PDAM. Ternyata, hanya sekali tanki PDAM mendistribusikan air ke desa kami. Setelah itu, tidak pernah kembali,” ungkapnya.

Dirut PDAM Trunojoyo Sampang Robert Balbut SE ketika dikonfirmasi hal tersebut mengatakan, droping air selama musim kemarau tetap berjalan sesui jadual. “Semua tetap kita droping. Tapi, pengiriman air tersebut tidak bisa kita turunkan di satu titik. Artinya, satu desa bisa ada tiga atau empat titik,” ujarnya.

Dia mengaku, kekeringan yang melanda Sampang sulit diatasi. Apalagi, armada PDAM terbatas dan sulit mengusai medan. “Yang mengalami kekeringan sekitar 70 desa. Sementara jumlah armada yang ada hanya delapan unit. Tentu saja, hal ini menjadi kendala bagi kami untuk memenuhi kebutuhan air bagi warga Sampang,” terangnya.

Selama musim kemarau, lanjut Robet, selama enam hari armada PDAM terus medistribusikan kebutuhan air warga di daerah kering. “Hari libur pun kami mengirim sedikitnya delapan tangki ke desa rawan air. Yang jelas, kami siap membantu dan memberikan air bersih sesuai dengan kemampuan,” jelasnya. (ri/yan/tra)

Dari uraian-uraian di atas jika dikaitkan dengan kekeringan yang terjadi di Desa torjun pemerintah harusnya lebih antusiasme menanganinya, karena masyarakat desa torjun sangat membutuhkan pasukan air untuk bisa bertahan hidup dan bisa mengalirkan ke lahan persawahan mereka. Kekeringan yang saat ini semakin meluas dan tidak bisa teratasi kurang lebih sudah mencapai 100 hektar.

Oleh sebab itu perencanaan rehabilitasi sumber air dan konservasi hutan/lahan haruslah benar-benar dicanangkan sejak dini agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan oleh masyarakat setempat, terutam di Desa tersebut.

Pemerintah dalam dalam hal perencanaan rehabilitasi sumber air dan konservasii hutan/lahan sangatlah bersungguh dan sangat antusiasme. Bukti keseriusan pemerintah dalam hal ini adalah dikeluarkannya :

1.Pada tahun 2002 Indonesia telah menyusun Program Aksi Penanggulangan Degradasi Lahan yang salah satu kegiatannya dan menjadi tugas pokok Departemen Kehutanan adalah Rehabilitasi Lahan Kritis dan Hutan yang terdegradasi (RHL) walaupun Jauh sebelum Sidang Umum PBB mendeklarasikan tahun 2006 sebagai Tahun Internasional Degradasi Lahan, negara kita sebenarnya sudah banyak melakukan kegiatan-kegiatan yang mengarah kepada penanggulangan degradasi lahan pada Daerah Aliran Sungai (DAS) prioritas.

2. Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 2002 tentang Tata Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan, Pemanfaatan Hutan dan Penggunaan Kawasan Hutan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4206);

3. Peraturan Pemerintah RI Nomor 29 tahun 1986 tentang analisis mengenai dampak lingkungan terhadap wilayah daerah sekitar industrinya.

4. Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2002 tentang Dana Reboisasi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 67, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4207);

5. Pasal 33 ayat 1 Pemerintah, Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah Kabupaten/ Kota mendorong peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan hutan kota. (2) Peran serta masyarakat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan sejak penunjukan, pembangunan, penetapan, pengelolaan, pembinaan dan pengawasan. (3) Ketentuan tentang tata cara peran serta masyarakat diatur lebih lanjut dengan Peraturan Daerah.

Dengan memperhatikan dan melaksanakan ketentuan sesuai dengan dasar hukum yang tersebut di atas, maka dimungkinkan prencanaaan mengatasi kekeringan yang terjadi terutama di Desa Torjun, Kecamatan Torjun sampang, akan berjalan baik dan bermanfaat bagi masyarakat setempat pada khusunya dan masyarakat jawa timur dan Indonesia pada umumnya dala mengatasi kekeringan.

C. Rehabilitasi sumber daya air dan konservasi hutan/lahan, dalam upaya mengatasi kekeringan di Desa Torjun kec. Torjun

1. Rehabilitasi sumber daya air

Rehabilitasi (tanggapan darurat) adalah tindakan-tindakan yang dilakukan setelah terjadi satu bencana untuk memungkinkan pelayanan-pelayanan dasar guna memfungsikan kembali, membantu para korban dengan usaha mandiri mereka untuk memperbaiki tempat tinggal dan fasilitas-fasilitas komunitas, dan memberikan fasilitas terhadap bangkitnya kembali aktifitas-aktifitas ekonomi (termasuk pertanian). Dalam istilah lingkungan / kehutanan, rehabilitasi biasa dikenal dengan istilah reboisasi/ agroforestry, reforestasi yang artinya adalah penanaman pohon dimana-mana.

Rehalbilitasi yang akan digunakan untuk membantu masyarakat torjun berupa saluran air yang akan di salurkan ke berbagai dusun yang berada dalam ruang lingkup Desa Torjun, yang akan diambil dari aliran sungai yang berada pada satu kawasan dengan desa torjun sendiri yaitu sungai tangkat.

Masalah kebutuhan air bersih dapat ditanggulangi dengan memanfaatkan sumber air dan air hujan. Menampung air hujan dari atap rumah adalah cara lain untuk memperoleh air. Cara yang cukup mudah ini kebanyakan masih diabaikan karena atap rumah yang terbuat dari daun rumbia atau alang-alang tidak memungkinkannya. Namun pada rumah yang beratap genteng atau seng bergelombang, hal ini dengan mudah dapat dilakukan dengan memasang talang air sepanjang sisi atap dan mengalirkan air hujan itu ke dalam tempat penyimpanan.

Sarana-sarana pengaliran yang akan digunakan adalah sebagai berikut:

Bak penampungan sumber air/mata air
Umumnya penyimpanan air yang digunakan adalah bak penampung yang dibuat dari drum, genteng dan bambu semen. Bahan ini digunakan karena :relatif murah, tahan lama, konstruksi kuat, mudah dibuat, bahan baku mudah didapat dan air yang ditampung tidak mudah tercemar.

    1. Membuat bak penampung dari semen atau batu bata. Cara pembuatan sesuai dengan selera (lihat topik Bak Penampung Air Bambu Semen)
    2. Lokasi pembuatan bak penampung air, harus dipilih tempat yang lebih rendah dari mata air agar aliran air ke dalam bak lebih lancar.
    3. Air dari sumber disaring dengan memakai saringan batu koral yang kemudian disalurkan dengan pipa ke bak penampungan.
    4. Bagan bak penampungan air. (lihat Gambar 1,2 dan 3).

      Gambar 2. 1. Sumber Air

      Gambar 2.2. Bak Penampung

      Gambar 2.3. Pengaliran Air ke Bak Penampung

      1. Setelah air tersimpan dalam bak, untuk memudahkan pengambilan air sebaiknya air disalurkan melalui pipa.
      2. Pipa untuk mengalirkan air (Lihat Gambar 4,5, dan 6)

        Gambar 2.4. Pipa

        Gambar 2.5. Pengaliran Air Bersih

Cara penggunaan

    1. Pengambilan air dilakukan melalui pipa/kran yang tersedia pada bak penampungan, bukan melalui lubang kontrol dengan timba.
    2. Sebaiknya untuk menjaga air supaya tetap bersih, dalam bak penampung diberi kaporit untuk membunuh kuman di dalam air.
    3. Untuk menjaga keutuhan/kelangsungan bangunan, perlu ditunjuk orang/organisasi yang bertanggung jawab untuk memelihara bangunan mata air tersebut.

      Gambar 2.6. Pengaliran Air Bersih ke Konsumen

2. konservasi hutan/lahan

Konservasi adalah pelestarian atau perlindungan. Secara harfiah, konservasi berasal dari bahasa Inggris, (en)Conservation yang artinya pelestarian atau perlindungan.[1]

Konservasi itu sendiri merupakan berasal dari kata Conservation yang terdiri atas kata con (together) dan servare (keep/save) yang memiliki pengertian mengenai upaya memelihara apa yang kita punya (keep/save what you have), namun secara bijaksana (wise use). Ide ini dikemukakan oleh Theodore Roosevelt (1902) yang merupakan orang Amerika pertama yang mengemukakan tentang konsep konservasi. Konservasi dalam pengertian sekarang, sering diterjemahkan sebagai the wise use of nature resource (pemanfaatan sumberdaya alam secara bijaksana).

Konservasi juga dapat dipandang dari segi ekonomi dan ekologi dimana konservasi dari segi ekonomi berarti mencoba mengalokasikan sumberdaya alam untuk sekarang, sedangkan dari segi ekologi, konservasi merupakan alokasi sumberdaya alam untuk sekarang dan masa yang akan datang.

Sedangkan menurut ilmu lingkungan, Konservasi adalah [2]:

  • Upaya efisiensi dari penggunaan energi, produksi, transmisi, atau distribusi yang berakibat pada pengurangan konsumsi energi di lain pihak menyediakan jasa yang sama tingkatannya.
  • Upaya perlindungan dan pengelolaan yang hati-hati terhadap lingkungan dan sumber daya alam
  • (fisik) Pengelolaan terhadap kuantitas tertentu yang stabil sepanjang reaksi kiamia atau transformasi fisik.
  • Upaya suaka dan perlindungan jangka panjang terhadap lingkungan
  • Suatu keyakinan bahwa habitat alami dari suatu wilayah dapat dikelola, sementara keaneka-ragaman genetik dari spesies dapat berlangsung dengan mempertahankan lingkungan alaminya.

Sedangkan menurut Rijksen (1981), konservasi merupakan suatu bentuk evolusi kultural dimana pada saat dulu, upaya konservasi lebih buruk daripada saat sekarang.

Secara keseluruhan, Konservasi Sumberdaya Alam Hayati (KSDAH) adalah pengelolaan sumberdaya alam hayati yang pemanfaatannya dilakukan secara bijaksana untuk menjamin kesinambungan persediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai dan keanekaragamannya.

Di Indonesia, kegiatan konservasi seharusnya dilaksanakan secara bersama oleh pemerintah dan masyarakat, mencakup masayarakat umum, swasta, lembaga swadaya masayarakat, perguruan tinggi, serta pihak-pihak lainnya.

Di Indonesia, berdasarkan peraturan perundang-undangan, Konservasi [sumber daya alam hayati] adalah pengelolaan sumber daya alam hayati yang pemanfaatannya dilakukan secara bijaksana untuk menjamin kesinambungan persediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas keanekaragaman dan nilainya. Cagar alam dan suaka margasatwa merupakan Kawasan Suaka Alam (KSA), sementara taman nasional, taman hutan raya, dan taman wisata alam merupakan Kawasan Pelestarian Alam (KPA).

Cagar alam karena keadaan alamnya mempunyai kekhasan tunbuhan, satwa, atau ekosistem tertentu yang perlu dilindungi dan perkembangannya berlangsung secara alami. Suaka margasatwa mempunyai ciri khas berupa keanekaragaman dan atau keunikan jenis satwanya.

Dalam hal ini pemerintah sampang juga  sependapat dengan pemerintah Kabupaten yang lain dengan pembuatan lahan terbuka atau lahan yang akan dicanangkan untuk laha hutan untuk mengatasi lebih parahnya kekeringan di berbagai desa yang mengalami kekeringan begitu parah.

Khusus sektor kehutanan, sebagian rawa ini berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Sampang  Perda No. 4 Tahun 1994 merupakan kawasan dengan fungsi Hutan Produksi Konversi (HPK) seluas 17.060 Ha.  Berdasarkan SK Menteri Kehutanan dan Perkebunan No 453/Kpts-II/99 kawasan dengan fungsi HPK berkurang menjadi seluas 7.647 Ha.  Peraturan Daerah No. 9 Tahun 2000 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi (RTRWP) ternyata kawasan HPK tidak ada lagi, semuanya menjadi Kawasan Budidaya Lahan Basah (KBLB). Adapun wilayah dataran tinggi dengan fungsi kawasan sebagai hutan hanya seluas 20.125 Ha (RTRWK); 16.080 Ha (SK Menhutbun); 11.915 Ha (RTRWP).

Kawasan hutan yang dimiliki Kabupaten Sampangn relatif kecil bila mengacu kepada Undang-Undang No. 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan Pasal 18 ayat 2 bahwa luas kawasan hutan minimal 30 % dari luas Daerah Aliran Sungai desa tangkat.  Menurut Undang-Undang tersebut seharusnya Kabupaten Sampang minimal memiliki kawasan hutan seluas 65.249 ha, tidak seperti sekarang ini dimana prosentasi untuk alokasi kawasan hutan hanya berkisar 5,5 % – 17,1 %.

Dengan kondisi topografi, luas kawasan hutan yang kecil, potensi rendah, dan luas lahan kritis yang relatif besar, selain merupakan kendala/hambatan tetapi juga menjadi tantangan dan peluang dalam pembangunan sektor kehutanan, khususnya upaya rehabilitasi hutan dan lahan untuk menanggulangi lahan kritis dan kosong menjadi potensial dan produktif. Pemerintah Kota Sampangpun sangat tidak mengira akan kekeringan yang melanda Desa Torjun tersebut.

Gambar 3.1 lahan dalam pembuatan hutan

Namun lahan ini tidak sepenuhnya menjadi satu-satunya lahan yang akan menjadi rencana penanggulangan kekeringan yang terjadi.

III. PENUTUP

A. Simpulan

Dari uraian-uraian yang telah dikemukakan di atas maka dapat dikemukakan simpulan:

bahwa dengan Perencanaan rehabilitasi sumber iar dan konservasi lahan/hutan,  akan berdampak positif dan akan mengurangi dampak negatif meski hanya sedikit terhadap kehidupan masyarakat Desa torjun torjun Sampang madura pada khususnya dan masyarakat jawa timur pada umumnya. Salah satu  dampak positifnya adalah Masyarakat tidak sulit lagi akan kekurangan air di Desa tersebut. Dampak kekeringan sangatlah bahaya terhadap hidup masyarakat karena akan menyebabkan kemiskinan dan bahkan kematian. Oleh sebab itu agar terjadi keseimbangan antara kekeringan yang terjadi di lingkungan dan lingkungan yang dibutuhkan oleh manusia maka salah satu cara untuk mengatasinya adalah Rehabilitasi sumber daya air dan konservasi hutan/lahan, dalam upaya mengatasi kekeringan di Desa Torjun secara merata di berbagai tempat diKabupaten sampang.

B. Saran

Saran yang bisa diajukan dalan makalah ini adalah :

1. Bagi pemerintah

Pogram Rehabilitasi sumber daya air dan konservasi hutan/lahan, dalam upaya mengatasi kekeringan sangat memungkinkan untuk dilaksnakan dalam  rangka mengatasi  masalah akibat Global warming ataupun kekeringan yang terjadi di dunia gobal yang tidak lama lagi akan segera membesar dan akan semakin meluas di berbagai tempat atau meliputi dunia global. Oleh sebab itu hendaknya program ini menjadi perioritas dalam perencanaan dalam mengatasi dampak kekeringan.

2. Bagi Penulis lain

Karena keterbatasan waktu, maka kajian-kajian lain akibat kekeringan yang melnda daerah di Desa Torjun hanya terbatas pada rehalibitasi sumber air dan konservasi lahan/hutan saja. Oleh sebab itu sebaiknya para penulis lain mengkaji hal-hal lain yang belum dibahas misalnya, sistem reward dan punishm.

3. Bagi masyarakat Desa Torjun

Karena program rehalibitasi sumber air dan konservasi hutan/lahan merupakan salah satu solusi untuk mengurangi dampak kekeringan akibat gejala El Nino –lebih tepatnya pemanasan global (Global warming)- yang akan segera digelar di berbagai tempat terutama Desa Torjun kecamatan Torjun, maka masyarakat setempat  harus mendukung dan dilestarikan program ini dengan sebaik-baiknya demi kepentingan masyarakat anak cucu masyarakat.

DAFTAR RUJUKAN

Arief, H. Sjarifuddin.(2010). Perencanaan rehalibitasi. Dapat diakses pada: WWW.Rehabilitasi.net/tara/makalah/paperunas-kapet.pdf

Imron, D. Zamawi.(2006). Sketsa Madura Menjelang Industrialisasi. Dapat diakses pada URL: http://hidayatullah.cpm/index.php

Sugiri, Harry. Membangun Masa Depan Madura. Jawa Pos (Radar Madura) Edisi 19-06-2009.

Taryana, Harry. Prinsip dasar rehabilitasi. Jawa Pos (Radar Madura) Edisi 2007/07/03. Dapat di akses di http://mbojo.wordpress.com/2007/07/03/ konservasi-tanah-dan-air-di-lahan-kering/

http://metrotvnews.com/index.php/metromain/newsvideo/2009/10/28/93001/Warga-Sampang-Sulit-Mendapatkan-Air-Bersih

Radar Madura. Kekeringan Makin Meluas [ Minggu, 19 Oktober 2008 ]

Warta Jatim, Atasi Kekeringan, Jawa Timur Akan Revitalisasi Mata Air 2010 Surabaya

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: